Ketika sakit datang menghampiri secara tiba - tiba disaat seseorang berada di dalam keluasan rahman ALLAH, berupa kejayaan hidup, bergelimpang materi, kedamaian berkeluarga, kenikmatan yang melalaikan seseorang akan apakah tujuan dari kehidupannya di dunia ini sebenarnya. Aku menceritakan diriku sendiri tidak orang lain tapi mungkin saja hal ini juga dialami beberapa orang atau juga banyak orang.
Setahun yang lalu aku divonis dokter mengalami kerusakan pada beberapa katup jantungku, ada satu katup yang tidak bisa membuka secara sempurna, dan ada satu katub jantung yang tidak bisa menutup sempurna, permasalahan ini sempat membuat hari hari ku yang cukup panjang berada dirumah sakit berpisah dengan anak anak ku, secara teori kedokteran diprediksi penyakit ini terjadi ketika aku masih kecil mengalami demam atau flu yang bisa dikatakan buruk, virusny masuk ke area jantung dan merusak katup katup jantung,,,,. Teori ini mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk para orang tua untuk tidak meremehkan yang namanya penyakit flu pada anak anaknya, sehingga harus diobati dengan baik dan tuntas.
Suatu saat aku pernah duduk di majelis ilmu yang rutin aku ikuti sekarang ini, saat itu materi yang ditengahkan perihal kesehatan bertema kanker,pembicaranya dr grisca kebetulan beliau juga sama sama ummahat di kajian muslimah, dari materi yang dibicarakan beliau juga menjelaskan tentang fase emosional yang dialami seseorang ketika sakit dan memang benar aku juga mengalami fase fase emosional tersebut yakni:
Fase pertama : pengingkaran dan isolasi
Setelah aku mengetahui diriku menderita kerusakan katup jantung, reaksi yang umum aku tunjukkan adalah mengingkari kenyataan tersebut, kata kata yang sering diucapkan adalah gak mungkin, mungkin diagnosisnya salah,.... Aku tidak percaya, selama ini aku baik baik saja, aku atlit maraton, anak ku tiga orang semua persalinan normal tidak mungkin aku mengalami kerusakan jantung aku sangat sehat dan sangat aktif tidak pernah ada keluhan sebelumnya, dokter mungkin salah diagnosis. Dan banyak lagi kalimat sejenis yang intinya mengingkari kenyataan yang telah terjadi padaku.
Akibat dari reaksi pengingkaran ini aku sering berpindah pindah berobat dari satu dokter ke dokter lainya, bahkan lebih sering berobat ke alternatif mulai dari obat obatan herbal, jamu, pijat dan juga tusuk jarum, semua saran dari tetangga, keluarga, teman dicoba dengan alasan ikhtiar, bahkan ada yang menyarankan berobat yang bersifat magic metode operasi secara ghoib,, waduhhhh serem kalau gak kuat iman bisa saja menerima anjuran tersebut dengan iming iming pasti sembuh..., semoga saja dengan sisa umur yang tidak tahu ini jangan terjerumus pada metode pengobatan yang sesat sehingga kita syirik menyekutukan ALLAH.
Sebenarnya fase ini ada gunanya juga, saya banyak memahami apa sebenarnya penyakit ku ini dan menjadikannya buffer. selama pengingkaran aku dapat menyiapkan diri untuk menerima kenyataan sebagai mana adanya.
Yang aku alami fase ini bersifat sementara dan berubah ke fase emosional berikutnya.
Fase kedua : kemarahan
Suatu ketika pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi, maka fase pertama dapat berubah menjadi fase kemarahan, kemurkaan, perasaan iri dan penolakan, dalam kondisi yang hanya jadi kembang tempat tidur tidak bisa beraktivitas dengan baik, banyak sekali keterbatasan, sempat membuat jengkel kenapa aku seperti ini sekarang, merasa sudah tidak berguna lagi, ingin selalu diperhatikan yang berlebihan, ada ketakutan dan kecemasan, penyesalan akan kehidupan yang sudah dilalui, menyalahkan dalam hati semua kepada suami, lingkungan kerja, dll berusaha mengurung diri menolak kunjungan dari orang orang yang menjenguk, banyak hal yang membuat aku marah dan tidak senang.
Fase ketiga: sikap menimbang nimbang
Setelah marah marah berlalu, aku mulai merasakan dan berpikir bahwa protesku tidak ada artinya, mulailah timbul perasaan bersalah dan mulai meningkatkan hubungan dengan tuhan ( ALLAH ), mungkin fase ini mempunyi ciri meminta dan berjanji kepada AllAH. Selama sakit dan dalam keterbatasan banyak mengoreksi diri tentang kesalahan kesalahan di masa lalu, keburukan keburukan, kurangnya beribadah, dan tentunya mulai berfikir tentang kematian. Pada fase ini ada azam dihati untuk bisa memperbaiki diri, berusaha mengganti apa apa yang telah aku lalaikan, meningkatkan ibadah pada ALLAH. Dan tentunya senantiasa memohon ampunan untuk semua dosa dosa yang sudah menumpuk.
Fase keempat : fase depresi
Pada fase ini merasa sedih dan berkabung karena merasa akan kehilangan orang yang dicinta, pengalaman yang indah, kebiasaan atau hobi yang menggembirakan, kehilangan segala-galanya yang berarti, takut terhadap kematian, takut akan ketergantungan, takut menjadi beban, takut tidak dapat bersosialisai, takut tidak dapat menjalankan fungsi sebagai ibu dan sebagai istri serta rasa takut lainya. Mengekspresikan kesedihan melalui tangisan, memikirkan masa depan dan memohon serta berdoa.
Fase kelima : mungkin ini fase terakhir, sudah tidak ada lagi pengingkaran, penolakan atau depresi, secara fisik badan lebih baik, tidur lebih banyak dan panjang, hampir tidak ada emosi, menjalani hari hari dengan ketenangan, pada fase ini aku mulai bisa bangkit dari keterpurukan, berfikir dengan sisa umur yang ada kenapa tidak dimanfaatkan sebaik - baiknya, bisa menjadi seseorang yang bermanfaat minimal untuk diri sendiri, suami, anak - anak , dan keluarga. Mulai menyikapi arti sebuah sakit yang awalnya dianggap sebuah musibah berubah disikapi menjadi sebuah berkah. AllAH memberikan suatu permasalahan berdampingan dengan solusi, ALLAH memberikan ujian tidak mungkin diluar kemampuan hambanya. Sangat yakin sekali akan janji ALLAH, bahwa kemuliaan seseorang seiring kesabaran dan keiklasannya terhadap menerima segala bentuk takdir dari ALLAH.
Tidak semua fase fase tersebut harus dilalui satu persatu, setiap individu mungkin saja berbeda, hal tersebut tergantung pada kematangan kejiwaan dan tentunya ketaatan menjalankan agamanya, makin matang kejiwaannya dan makin percaya pada ketentuan ALLAH maka makin cepat mencapai ke fase lima yaitu menerima kenyataan yang terjadi dan menyikapinya dengan baik.
Permasalahanya tidak semua orang memiliki ketahanan kejiwaan yang baik atau matang, bisa saja pada saat fase pengingkaran terjadi lebih dominan, membayangkan jika aku mengalaminya apa yang akan terjadi ya? Astagfirullah jadi mbayangin yang buruk buruk.. Bisa saja terjerumus kedalam syirik, mmm,,,... Semoga selalu ALLAH memberi hidayah petunjuk pada jalan yang lurus.
Jika ada yang mengalami seperti aku segeralah melaju ke fase kelima,,,. Jangan lama lama di fase pengingkaran. Dari yang aku rasakan secara fisik dan emosional hal ini sangat membantu. Sekarang aku lebih bahagia dan merasa lebih berarti, bukan GR looh ( gedhe rumongso @ bahasa jawa ), banyak hikmah yang aku ambil dari sakit ini, salah satunya adalah Aku merasa dimuliakan oleh penyakit ini haduh GR lagi... Bukan GR ini motivasi untuk yang mengalami seperti aku. Saat aku sakit semua keluargaku lebih memanjakan aku, tidak boleh kerja berat, tidak boleh terlalu capek, tidak boleh sedih harus senantiasa senang, disayang P.O.L.L, lah intinya, betapa ALLAH sudah menggantikan kesedihanku. Dari perusahaan aku masih mendapatkan gaji tiap bulannya meskipun aku tidak bekerja ,,,betapa ALLAH menambahkan rezekiNYA padaku. Sekarang aku punya banyak waktu dengan anak anak ku, sekarang aku punya banyak waktu untuk duduk di majelis ilmu, sekarang juga aku memiliki sahabat sahabat yang baik menjalin silaturahmi dengan ummahat di kajian muslimah Navilla graha, banyak hal yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, nah dari semua itu sangat kufur jika aku mengingkari nikmat ALLAH berupa sakit ini, kesimpulannya sakit adalah sebuah ujian yang akan membawa kemulian bagi seseorang yang sabar menerimanya. Semoga ALLAH senantiasa membimbingku untuk menjadi hambanya yang sabar dan iklas, semoga AllAH senantiasa memberi aku umur yang barokah, semoga ALLAH menjaga hatiku untuk selalu menuju padaNYA. Semoga ALLAH senantiasa mengampuni dosa dosa ku dimasa lalu dan masa mendatang, semoga aku dijadikan hambaNYA yang bermanfaat.
Jika ada salah penulisan mohon diingatkan,, karena masih banyak kebodohan yang meliputiku, bukan berniat takabur hanya ingin memberi motivasi untuk pembaca yang mengalami hal sama sepertiku, untuk tetap bersemangat.
Spesial thanks
pak penoku, all family, dr Gris, ummahat navilla graha, bunda yani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar